Sesendok St. Helena Sensasi Nasionalisme


Kini tinggallah Kondrad sendiri. Angin dingin menyerahkan dialog kepada telaga kenangan di benak Kondrad.

"Saat kabur, Sang Dewi sengaja melepaskan satu aroma seribu tanya. Menggantung di leherku dengan permintaan, semua lensa nalar karena keinginan memahami, dengan segala hormat harus segera pergi menyingkir. Selalu untuk selalu. Jumlah lembaran puisi ini hanya terkait satu jepitan jari. Belum semua aku kuasai kata-kata terkamus rapi dan tersembunyi di satu deretan rak perpustakaan. Tetapi alam inspirasimu senyawa imajinasi, terbentang bersama gugusan bintang-bintang tak bernama untuk kusentuh. Tak berbatas luasnya anggitan kartika,  terhirup pesona dalam kurun detik. Untukmu bersama seserup kahveh, always...!"  

"Dessy, tiada akan tersembunyi aksara-aksara itu agar bersemayam di kalbu. Bukti langgengnya ia di saat ini, besok, sampai kapan pun, sama seperti hari yang telah berlalu. Maafkan aku yang telah membangunkan rasa penasaran untuk bertemu, karena tulisan refleksi sejarahku ini."

Sesendok St. Helena Sensasi Nasionalisme

I
Blah-blah demagogis, dan aku melihat diriku di sana. Kekasihku, turunlah berdansa denganku, sebab di mata hatimu telah terbaca. Lihat phantom pun tersenyum, meneguk cita rasa kopi Sri Paduka. Atau cacing-cacing despot di tanah arogan bersedawa, setidaknya.

II
Wahai Jenderal di Bukit Kersang, memoarmu pucat, berat, dan tajam. Kami memang ramah, bijaksana, dan rela kebodohan dicengkeram. Kami memang terbiasa manut, kecut, dan takut dengan aktor-aktor orator kotor dan kejam. Namun gelegar karismamu bergaung dari derap sepatu besi korps gerak cepat. Menerjang badai hujan api, menerjang badai padang pasir. Meteor murka dari mulut meriam di atas menara kota, nenyambar lintasan langit kaum konspirator koalisi imperium raya. Di muka barikade dengan arteleri yang paling mematikan, berani di antara yang paling berani menempa nyawa. Darah negaramu tertuang dari leher tentara-tentara agung, kesetiaan mengalir bak air sungai.

Apakah arti hadiah topeng emas kepada pembela perkataan mulia, di antara gelar-gelar opurtunis kemuliaan dan keagungan bersimbol surga? Biarlah tulang-tulang kami berserakan adalah sisa makanan anjing-anjing setia. Nyaring melolong, itu sementara

III
Dan aku tidak bermaksud mengatakan kesalahan Baginda, provokasi meredam pertahanan dari lorong-lorong soliter. Ketabahan telah khyusukkan pijakan kemurnian kepada cita-cita rakyat semesta, kemurnian kepada cita-cita egaliter. Perarakan tinggalkan selangkah bagi nasib, atau rakyat sipil mati gantung diri. Perlahan di atas liang kuburan bahasa suci dan hina merancang kebenaran diskriminasi, perlahan di lantai kemasyhuran nasehat mulia menanti basi.

Dan biarkan sisa cairan bangkai tengkorak mereka menggigil, demam dalam pertempuran aksara-aksara sakral mereka kelak menagih janji. Merampas pampasan demi kolase inspirasi, sembari menikam kesaksian sejati. Tersenyum diam di atas ketelanjangan tanya anak-anak titisan langit, yang hidup dengan rebusan keringat dan darah rakyat jelata. Sekarat kemenjadian hari dari penjara mimpi.

V
Adakah ada alasan prinsip-prinsip kezaliman peradaban tidak memilih tidak ada menjadi ada? muskil dikenakan jika syarat cincin anasir-anasir terkondisi tidak ada. Surai kuda mereka tidak henti-henti pamerkan kemenangan dramatis, yang tertulis dengan tinta nektar di sapu tangan linen berdebu.

Perlukah ditanya lagi, siapa yang membangun lingkaran benteng-benteng megah jika bukan karena, egomania terhalusinasi ketakutan koalisi rahasia, musuh abadi kuasa illah-illah berilusi, dengan tangan-tangan raksasa bermusket hantu mengungtit dari belakang? Perlukah ditanya kembali, siapa yang memicu tali kekang peristiwa, tatkala takut menoleh ke bawah, ratusan ribu pembunuh massal di telapak kaki semua penguasa? Mereka biadab, mereka agung, mereka dicaci maki, mereka dicintai. Mereka sama-sama tidak bebas dari rantai pilihan rencana dan peristiwa, merekalah yang sama-sama dibesarkan jaman. Kita tenangkan ringkik kuda di tengah-tengah nyanyian raja-raja. Kejayaan adalah harta, adalah nama, adalah waktu, adalah lupa.

VI
Blah-blah demagogis sejarah. Monarki neraka penindasan mengadopsi cakrawala demokrasi karena terpaksa demi tahta. Hujan darah merah bersimbah dimana-mana adalah harga silih ransum nasionalisme.

Kini diriku di sana terbuka mata melihat aku berada di pentas mimbar naskah-naskah luhur warisan visi membumi. Seraya menghirup guano dan harum mesiu klasik, sesaat mencecap sesendok air kopi kultivar St. Helena di sini. Asap kebebasan membumbung dari bening api jiwa yang menyala berkobar-kobar membakar imajininasi :

Saatnya akan tiba saudara, getaran-getaran nyali terbaca di mata Anda.
Saatnya akan tiba saudara, kebangkitan firasat peti mati Jenderal*.

Kepada garda-garda gelora revolusi, derai air mata yang meleburkan seribu muntahan api, bergemuruh haru di prosesi pemakaman :

Diam mengakui kenyataan, khidmat ikrar dan kehormatan rakyat sipil bertaruh di ujung pedang manusia berkharisma. Diam menerima kenyataan, kebencian bukan sebuah keharusan absolut yang dibunuh dengan luapan darah kebencian karena penyangkalan kebenaran fakta. Engkau yang nanti tidak ada, tidak akan pernah relakan mautmu menerima kematian dengan tidak selayaknya. Jika tidak karena kemuskilan sang matahari tenggelam di ujung kaki gelombang samudera, jika tidak karena keniscayaan kehidupan adalah keharmonian skala peta dan syarat di pundak sejarah. Lalu apa yang aku artikan tentang pernik-pernik megalomania?

Bayonet menyambut penobatan seorang negarawan, bunga-bunga magis legenda strategi brilian penaklukan, sensasi resital tunggal manusia anggun yang terbuang, hadir persembahkan kejutan?

Apa yang aku tahu tentang rasa sakit memborok, mengerang, merobek-robek dada, ketika kasta para pemimpin tirani menginjak-injak harkat dan martabat negara? itu setidaknya.


*)Napoleon Bonaparte. Bersambung. Reposting dari Kompasiana - BangKemal
Fragmen sebelumnya : Gerai Kahveh, Always