Mimbar Rumah Kita, Terima Kasih Indonesiaku

Rumbai-rumbai selendang pawana mengusap roma wajah dengan liuk lembut
Iringan tarian maharani kuning keemasan selaras debur ombak membuai ritme
Nyiur hijau tak hirau senja memaksa berlalu tatkala rindu pun enggan membiar
Decak haru bagai rengekan anakanak kecil mengembunkan kenangan di hati
Untuk pesona pantai, betapa hamparan memencar aura menegunkan kagum
Karunia ia makin merasuki renungan, seakan semua berkelimpahan cumacuma
Aditama ia makin berarti memberi pilihan, selayak ganjaran kasih Sang Khalik
Nyatalah indah anugerah ini, seindah bukti kasih itu sungguh tidak berhingga
Kehendak diri merekat di telapak kaki, karna butiran pasir yang menyapa halus
Adalah pilihan diri meluruhkan dayanya, karna terhempas ombak di bibir pantai
Meski acap bidal pusaka dan lariklarik pujangga berlinang tinta air mata darah
Penderitaan mengusung hakekat kebersamaan dalam keranda sejuta mimpi
Ujaran syukur tak berujung selamanya di mimbar yang pasrah memugar batin
Negeri berbudaya citrakan keabadian ruby, flora khatulistiwa keasrian zamrud
Gelora di lanskap alam milik diri generasi, hening tajamkan pilihan dalam kredo
Haluan seyogianya di depan gugusan dwipa, lahir dari bakti yang diberkatkan

Aku dan kita yang kecil tempo hari
   masih merekam amanat
   trah leluhur yang tiada ternilaikan
   tiada lebih pun sekarung bekal berprestise

Lenterakan penanda betapa alpanya kita
   mengintergrasikan makna riwayat
   dalam pigura perjuangan
   di era pendewaan kepemimpinan kapitalis

Aku dan kita yang kecil tempo hari
   masih mendengar suara satu
   dan takjub melihat dedikasi 
   cucuran peluh serta harta 
dari kekurangan mereka
   agar tegaklah berdiri

Masjid dengan kaligrafi berestetika
   bersama kapel dan gereja unik
   pura yang mencuar bersama klenteng megah
   dan indahnya wihara

Aku dan kita sekarang bersyukur dan mengatakan 
   lebih baik kita tinggal di rumah sendiri dalam damai
   bangkit kembali mengadvokasi
   seraya melayakkan perbuatan mulia 
   melandasi wahana kehendak

Nyaring ia terdengar di lubuk hati 
   bagi insaninsan yang tahu akan siapa dirinya di atas maha karya
   haluan itu takkan pernah surut nilai
   sampaikan marwah bangsa milikmu 
adalah juga milikku




Catatan :
Reposting dari Kompasiana/bangkemal

Mari nikmati Youtube : http://youtu.be/PziPKZ8m-tM