Gerai Kahveh, Always ... !

Gerai Kahveh di seberang kampus menjadi persinggahan terfavorit sepanjang kenangan. Tersedia di sana bagi pengunjung fasilitas free wifi. Kondrad yang ditemani secangkir kopi sedang asyik mendengarkan musik. Sebuah lagu kesedihan, Adagio - Lara Fabian. Lara juga menanti suara merdu sang dewi inspirator. Desiran angin dingin membawakan sapa. Kerinduan yang sama kembali setelah tertawan hari-hari sepi. Kehilangan merampas waktu penuh ceria dengan jeda yang tersiksa lama. Mengangkat kembali peristiwa satu jam yang lalu.
-------

"Hai, sudah baca jawabku tentang mutiara. Seandainya penyair itu Abang?"

"Ting, tok, tok, tok. Ting, tok, tok, tok." Sendok kecil beradu di antara vas bunga oriental dengan tatakannya.

Tes dulu, ah, demikian bisikan hati Dessy ingin mengatur beat suasana. Kondrad terpancing mengerling mata ke arah gerak lincah jari Dessy. Teriring dentingan manja harpa mengejar debaran selo, hadiran meliarkan fantasi .

"Salahkan aku beranggapan demikian? Komplain serius, nih." Akting Dessy melempar jejaring perhatian bernada cemberut. Mata mereka seksama memindai titik fokus dari pucuk suara.

"Sebentar Dessy..., bukan maksud bagiku merancang seribu sosok di satu rangkaian gerbong. Memang adalah benar jika kita semua superbijak, bubar kabe. Yang jelas kita ini bukan siapa-siapa." Kondrad enggan masuk ke lorong jalan pembicaraan yang sama dan memaksakan penutup akhir diskusi. Diskusi seru yang sebenarnya telah lama dinanti. Perasaannya berubah peka dan gelisah, jawaban Dessy tidak menyinggung esai kopi.

Sang dewi sadar akan pengalihan, tanggapan blunder dari inti masalah. Ia menghindari sambil  mengaduk-aduk air kopi di cangkir yang belum disentuh Kondrad.

"Bang, ada lho saduran formula macchiato, cappuccino, latte dan lain-lain. Belum lagi dengan variasi sekarang. Kadang terasa ada rum, ada wine. Di atasnya bisa ditaburi tambahan menarik. Itu biar keaslian coklat kopi tidak memekat hanya menjadi hitam. Nikmatnya lebih wah. Bang, aku mau presentasikan keahlian kalau bahas kopi. Aku sendiri punya resep khusus warisan keluarga. Abang masih tidak yakin, hai? Kuambilkan bahannya di dapur kantin, ya. Plus makanan kecil buat Abangku tersayang. Ibu kantin sudah menganggap aku anaknya. Dia sering mengajak aku mengulas rajikan kopinya. Oke, oke?"

"Ah, emoh. Kopi yah tetap kopi. Nggak mesti kan hilang dahsyatnya karena perisa atau brands selangit. Apalagi pakai makanan pendamping. Lama-kelamaan nanti, kudapan lupa diri memeran figuran. Kopi dikudeta Napoleon. Coffeol malah berkesan pelengkap, simbol penyedap semata-mata. Hem, sengaja bahas kopi? ayuk. Cobalah sekali-kali diimajinasikan nihil terimajinasi sebuah proses. Apa yang sebenarnya mereka nikmati dengan mahalnya civet coffee? Cerita-cerita di balik fragmentasi, fermentasi tak tersentuh tangan manusia? Natural itu akan menyangkal dan berdendang. Dessy yang caem, tengoklah ke dalam. Kita mesti telanjang seperti lirik lagu Ebiet. Pernahkah diteliti sejarah ucapan itu? Akungku dulu pernah berkata sama tentang kejujuran waktu merebus kopi. Lalu tertuang separuh di cawan kesayangan kerabatnya masing-masing. Ia berlagak seorang profesor, cerdas dan ringan bercanda. Bila cawanmu kosong, kamu akan diam. Tapi bila kuisi sedikit, sisanya tidak akan membiarkan selamanya kamu terdiam berkata jujur. Isi lagi dong. Mereka tidak mengenal Kahlil Gibran. Sementara kita-kita sekarang hanya tahu, syair piala setengah penuh itu milik sang legenda. Nun jauh di belahan bumi lain. Lalu akungku kembali memberi petuah. Keberhasilan adalah keteladanan terbaik daripada kongko-kongko. Ia tidak tahu di buku Napoleon I of France tertulis, sukses adalah pembicara yang paling meyakinkan di dunia."

"Jadi bagiku, berapa pun banding satu hasilnya sama. Memahami kemurnian imajinasi dari apa yang tidak lagi terucapkan. Sama seperti pesanmu dulu. Kesan-kesan atau suasana ber-cozy ria tentu bukan yang utama. Bukan begitu dewiku? Kesan apapun akan berbeda dengan keaslian sebuah pesan untuk dipahami. Seidentik dengan syair mutira itu. Bukti langgengnya ia di saat ini, besok, sampai kapan pun, sama seperti  waktu yang telah berlalu. Lalu dengan kopi hitam pekat ini, cukuplah aku berteman dengan senyum manis wajah monalisamu. Itu saja. Oh Dessy, jarang pakai lipstik ya?" Mata Kondrad berat hati melepaskan tatapan bagai senapan lontak membidik bibir Dessy yang aduhai. Luluh juga harga argumentasi Dessy.

"Jangan diinterupsi dulu ya, sayangku. Laskar yang super sok benar, sok pintar seantero kahyangan. Walaupun dikau pernah belajar banyak tip, biar Adikmu  lanjutkan dulu."

"Dor, merdeka." Kondrad menyeletuk. Dessy tidak peduli dan terus menguliahi.

"Genre kopi itu banyak, Bang. Tergantung asal-usulnya, kondisi tanah, air, unsur-unsur hara. Begitu juga puluhan racikan yang kita kenal, jumlah sebenarnya bahkan lebih. Termasuk yang diminum Napoleon menjelang kematian. Sekarang lagi musim, peracik truly coffee house memilih roasting sendiri untuk tetap mengangkat mutu keaslian. Setuju soal ini dan cernalah baik-baik maksudku seperti pencernaan luwak. Ada hal yang sama dan yang berbeda. Dikau pun bisa meracik sendiri muridku. Enggak usah songong di lapangan terbuka. Hai, ini ide penemuanku, ini kesukaanku. Mengapa? itu hanyalah jenis atau varian yang akan siaga memenjarakan imajinasimu ke pulau pembuangan." Dessy semakin menukik tajam.

"Begini saja cerita sebuah loyalitas. Ketelanjangan ilham dan pesan ibarat sajian secangkir hangat air kopi.  Apakah hanya itu? Ada sedikit zat rasa yang membuat penikmat penasaran. Ini mengatrol selera ingin tahu untuk tergoda. Sama seperti senyumku. Hi-hi, itu kata Abang, ya. Mahalnya sejuta arti karena belum semua terungkap pasti."

"Dor, hidup Bu guruku." Lagi-lagi sengaja diinterupsi Kondrad. Dessy menaikkan volume suara.

"Makanya Bang, biarlah masing-masing menentukan harga dengan rasa suka melangit, tidak suka membumi. Selera orang berbeda-beda. Marilah kita hargai semua proses ramuan itu, layaknya menghargai jerih payah pekerja seni menyelesaikan tahap finishing, lukisan kehidupan yang ia subjektifkan. Penikmat sekali-kali akan terbiasa menikmati keaslian dan kelezatan ekstranya. Tentu Abangku yang setengah baik setengah sombong, periferal itu tidak asal jadi, semua ikut mendukung, dan segala arah dukungan itu memerlukan disiplinnya tersendiri seperti kekayaan konsentrasi dari jenis-jenis buku panduan di rak-rak perpustakaan seluruh dunia. Sekali lagi, pilihan itu bebas tanpa paksaan. Dan otak kita tidak berpihak dengan membuta saat berjalan di tengah malam karena berpandukan rasi-rasi bintang dan bulan tanpa perlu kehilangan prisma jiwa dan pikirannya. Bukan sepoi-sepoi angin-anginan, Kakanda. Jika tidak, monotonlah ia setua akung dan hyang putri kita tanpa nilai perbandingan. Yang jelas seumur-umur Abang tetap bisa mencintai kopi. Dan cinta itu ibarat proses biji-bijian yang telah tersaji dengan segala bentuk kemahsyuran. Apalah Abangku ini, dengarkan baik-baik poin terakhir. Tidak ada larangan untuk Abang terinspirasi dari hasil racikanku, jika itu yang menjadi gangguan pencernaanmu kambuh lagi."

"Hore, seru-seru. Hem, terngiang bentuk imajinasi Kahlil memaknai cinta." Diam-diam Kondrad menyimpan pujian luar biasa karena tutur kata Dessy yang tak putus-putus. Tiba-tiba ide liar bertandang.

"Bagaimana jika Abang dihadapkan pilihan, kopi yang palingnya paling atau memilih seorang wanita ayu perajik kopi yang setengah telanjang?"

"Abang yang omong duluan. Tertulis jelas-jelas di syair itu. Dari dulu Abang yang ku kenal, nggak hilang-hilang kelakuan pelesetan. Mendadak kabur ah, kayak kuda nil jaman Kahlil. Terus kudanya berlari sambil bernyanyi riang, 'Abang ganjen, Abang melow, Abang lebay, Abang gila.' Gitu tuh liriknya.

Dessy tetap memasang wajah gengsi menatap senyum Kondrad yang tertahan kaku tersipu-sipu. Kena dah skak ster. Hatinya senang tak terlukiskan melihat pemandangan yang tidak biasa. Kondrad tak sanggup lagi berkata-kata alias mati gaya, mirip mumi salah tingkah.




Catatan : Bersambung. Link musik (inspirasi) Youtube : http://youtu.be/nVjy3g9FRZY